Kejujuran Dalam Keseharian

“Dua macam batu timbangan adalah kekejian bagi TUHAN, dan neraca serong itu tidak baik.” (Amsal 20:23)



Pembahasan: Amsal 20:1-30 | Ayat Bacaan: Amsal 20

Pernahkah Anda mendengar istilah “memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan”? Dalam arti positif, istilah ini dapat berarti kemampuan untuk berpikir kreatif dan menemukan jalan keluar di tengah kesulitan. Namun, dalam praktiknya, istilah ini sering dipakai untuk menggambarkan orang yang mencari keuntungan pribadi dari kondisi orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Tentu saja, sikap tersebut tidak dapat dibenarkan.

Pada zaman kuno, jauh sebelum uang kertas atau sistem perbankan dikenal, perdagangan di dunia Timur Tengah, termasuk di Israel, dilakukan dengan cara yang sangat sederhana: menimbang barang. Para pedagang membawa batu kecil atau alat dengan ukuran tertentu sebagai timbangan. Batu-batu itu digunakan untuk menentukan harga emas, gandum, minyak, atau kain. Namun, tidak sedikit pedagang yang memiliki dua set batu timbangan: satu set yang lebih berat untuk membeli, dan satu set yang lebih ringan untuk menjual. Hal ini dilakukan agar mereka mendapat keuntungan yang lebih besar dari orang lain. Amsal 20:10 dan 23 menyinggung bahwa praktik seperti ini mungkin tampak cerdas dan menguntungkan, tetapi dalam pandangan Tuhan merupakan kekejian. Amsal menegaskan: ketidakjujuran, bahkan dalam hal yang paling praktis sekalipun, melanggar kekudusan Allah. Mengapa? Karena Allah sendiri adalah adil dan benar. Ia ingin umat-Nya mencerminkan karakter-Nya, baik dalam beribadah maupun dalam kehidupan sehari-hari, di pasar, di rumah, atau di tempat pelayanan.

Dalam terang Perjanjian Baru, kejujuran sejati kita temukan di dalam Kristus Yesus. Ia menimbang hati manusia dengan kebenaran sempurna. Di kayu salib, Yesus menanggung dosa ketidakjujuran kita: kebohongan, manipulasi, kepura-puraan, dan segala bentuk ketidaktulusan. Ia menebus kita agar kita bisa hidup dalam terang dan kebenaran-Nya. Karena itu, kita perlu waspada agar tidak memberikan timbangan atau tuntutan yang lebih berat kepada orang lain, sementara memberikan timbangan atau tuntutan yang lebih ringan kepada diri sendiri, demi kenyamanan pribadi. Mari kita menerapkan ukuran yang adil dan tidak merugikan orang lain, baik dalam pekerjaan, pelayanan, maupun dalam relasi kita dengan sesama.

STUDI PRIBADI: Apakah kita menuntut orang lain lebih tinggi daripada yang kita terapkan pada diri kita sendiri? Bagaimanadapat menerapkan kejujuran dalam hidup sehari-hari?

Pokok Doa: Doakan agar jemaat Tuhan dapat hidup dalam sebuah relasi yang jujur dan saling menghargai satu dengan yang lainnya sehingga dapat mencerminkan kekudusan Tuhan.

×

Amsal 20:10, 23

10 Dua macam batu timbangan, dua macam takaran, kedua-duanya adalah kekejian bagi TUHAN.

23 Dua macam batu timbangan adalah kekejian bagi TUHAN, dan neraca serong itu tidak baik.

×

Yakobus 3:17

17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

×

Mazmur 141:3

3 Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!

×

Amsal 12:11

11 Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia, tidak berakal budi.

×

Amsal 3:21-25

21 Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu,

22 maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu.

23 Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk.

24 Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak.

25 Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang.

×

Mazmur 147:11

11 TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.

×

Mazmur 144:15

15 Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya! Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN!

×

Roma 8:21, 23b

21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

23b tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

×

Mazmur 146:9

9 TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.

×

Mazmur 41:5

4 (41-5) Kalau aku, kataku: "TUHAN, kasihanilah aku, sembuhkanlah aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa!"

×

Matius 5:7

7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

×

Matius 11:28

28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

×

1 Petrus 5:7

7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

Sharing Is Caring: