Penghiburan Dalam Penderitaan

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:22-23)



Pembahasan: Ratapan 3:1-66 | Ayat Bacaan: Ratapan 2-3

Pada konflik perang di Gaza 2023–2024, banyak warga sipil hidup dalam ketakutan tanpa kepastian. Dalam wawancara dengan BBC News, seorang ibu mengatakan bahwa yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan rumah, tetapi hidup tanpa jaminan hari esok. Kehidupan yang dulu normal berubah menjadi kecemasan yang terus-menerus. Dalam kondisi ini, penderitaan tidak hanya menyentuh tubuh, tetapi juga menghancurkan batin dan pengharapan manusia. Hal Lindsey menulis, “Manusia dapat hidup sekitar empat puluh hari tanpa makanan, sekitar tiga hari tanpa air, sekitar delapan menit tanpa udara … tetapi hanya untuk satu detik tanpa harapan.”

Kitab Ratapan pasal 3 menggembarkan seseorang yang merasa sangat menderita, seperti orang yang dihalau dan dibawa ke dalam kegelapan (ay. 2), bahkan merasa Tuhan menjadi lawannya. Ungkapan ini mencerminkan kejujuran dalam teologi penderitaan: iman yang berani mengungkapkan realita. Namun, di tengah ratapan itu muncul titik balik penting pada ayat 21: “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan.” Dalam teks Ibrani, kata yang dipakai bukan sekadar “mengingat,” melainkan “membawa kembali” ke dalam hati—sebuah tindakan aktif dan disengaja. Penulis tidak sedang menunggu perasaannya berubah, tetapi dengan sadar mengarahkan hatinya kepada kebenaran tentang Allah. Ia memilih untuk mengingat kembali kasih setia Tuhan yang tidak berkesudahan (ay. 22-23). Kata “kasih setia” berasal dari istilah Ibrani hesed, menunjuk pada kasih perjanjian Allah yang setia dan tidak berubah, meskipun umat-Nya tidak setia. Dalam konteks kehancuran Yerusalem, ini bukan optimisme kosong, melainkan disiplin rohani: di tengah reruntuhan, karakter Allah tetap setia dan tidak berubah.

Penghiburan sejati tidak lahir dari situasi yang membaik, tetapi dari pengenalan akan Allah yang tidak berubah. Kita boleh meratap, bahkan merasa gelap, tetapi jangan berhenti dan terlelap. Iman bertumbuh ketika kita dengan sengaja mengingat Tuhan dan kasih setia-Nya di tengah derita. Saat hidup terasa tidak pasti, justru di situlah kita belajar bahwa harapan tidak bergantung pada keadaan, melainkan pada Tuhan yang tetap setia. Ia tidak pernah meninggalkan kita, dan di tengah kegelapan, Ia sedang menenun penghiburan yang menguatkan dan memulihkan.

STUDI PRIBADI: Baca Mazmur 42:6-7; Roma 5:3-5. Ketika ada dalam penderitaan, apakah saya mengingat kesetiaan Tuhan atau tenggelam dalam derita tanpa pengharapan?

Pokok Doa: Berdoa agar Tuhan menolong kita untuk tetap mengingat kasih setia-Nya di tengah penderitaan, sehingga kita dikuatkan, tidak kehilangan pengharapan, dan tetap percaya bahwa Ia bekerja dalam hidup kita.

×

Ratapan 3

Penghiburan dalam penderitaan

1 Akulah orang yang melihat sengsara disebabkan cambuk murka-Nya.

2 Ia menghalau dan membawa aku ke dalam kegelapan yang tidak ada terangnya.

3 Sesungguhnya, aku dipukul-Nya berulang-ulang dengan tangan-Nya sepanjang hari.

4 Ia menyusutkan dagingku dan kulitku, tulang-tulangku dipatahkan-Nya.

5 Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan dan kesusahan.

6 Ia menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati.

7 Ia menutup segala jalan ke luar bagiku, Ia mengikat aku dengan rantai yang berat.

8 Walaupun aku memanggil-manggil dan berteriak minta tolong, tak didengarkan-Nya doaku.

9 Ia merintangi jalan-jalanku dengan batu pahat, dan menjadikannya tidak terlalui.

10 Laksana beruang Ia menghadang aku, laksana singa dalam tempat persembunyian.

11 Ia membelokkan jalan-jalanku, merobek-robek aku dan membuat aku tertegun.

12 Ia membidikkan panah-Nya, menjadikan aku sasaran anak panah.

13 Ia menyusupkan ke dalam hatiku segala anak panah dari tabung-Nya.

14 Aku menjadi tertawaan bagi segenap bangsaku, menjadi lagu ejekan mereka sepanjang hari.

15 Ia mengenyangkan aku dengan kepahitan, memberi aku minum ipuh.

16 Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu.

17 Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan.

18 Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.

19 "Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu."

20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

24 "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.

28 Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya.

29 Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan.

30 Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan.

31 Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan.

32 Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya.

33 Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia.

34 Kalau dipijak-pijak dengan kaki tawanan-tawanan di dunia,

35 kalau hak orang dibelokkan di hadapan Yang Mahatinggi,

36 atau orang diperlakukan tidak adil dalam perkaranya, masakan Tuhan tidak melihatnya?

37 Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya?

38 Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik?

39 Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya!

40 Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN.

41 Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di sorga:

42 Kami telah mendurhaka dan memberontak, Engkau tidak mengampuni.

43 Engkau menyelubungi diri-Mu dengan murka, mengejar kami dan membunuh kami tanpa belas kasihan.

44 Engkau menyelubungi diri-Mu dengan awan, sehingga doa tak dapat menembus.

45 Kami Kaujadikan kotor dan keji di antara bangsa-bangsa.

46 Terhadap kami semua seteru kami mengangakan mulutnya.

47 Kejut dan jerat menimpa kami, kemusnahan dan kehancuran.

48 Air mataku mengalir bagaikan batang air, karena keruntuhan puteri bangsaku.

49 Air mataku terus-menerus bercucuran, dengan tak henti-hentinya,

50 sampai TUHAN memandang dari atas dan melihat dari sorga.

51 Mataku terasa pedih oleh sebab keadaan puteri-puteri kotaku.

52 Seperti burung aku diburu-buru oleh mereka yang menjadi seteruku tanpa sebab.

53 Mereka melemparkan aku hidup-hidup dalam lobang, melontari aku dengan batu.

54 Air membanjir di atas kepalaku, kusangka: "Binasa aku!"

55 "Ya TUHAN, aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam.

56 Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telinga-Mu terhadap kesahku dan teriak tolongku!

57 Engkau dekat tatkala aku memanggil-Mu, Engkau berfirman: Jangan takut!"

58 "Ya Tuhan, Engkau telah memperjuangkan perkaraku, Engkau telah menyelamatkan hidupku.

59 Engkau telah melihat ketidakadilan terhadap aku, ya TUHAN; berikanlah keadilan!

60 Engkau telah melihat segala dendam mereka, segala rancangan mereka terhadap aku."

61 "Engkau telah mendengar cercaan mereka, ya TUHAN, segala rancangan mereka terhadap aku,

62 percakapan orang-orang yang melawan aku, dan rencana mereka terhadap aku sepanjang hari.

63 Amatilah duduk bangun mereka! Aku menjadi lagu ejekan mereka."

64 "Engkau akan mengadakan pembalasan terhadap mereka, ya TUHAN, menurut perbuatan tangan mereka.

65 Engkau akan mengeraskan hati mereka; kiranya kutuk-Mu menimpa mereka!

66 Engkau akan mengejar mereka dengan murka dan memunahkan mereka dari bawah langit, ya TUHAN!"

×

Ratapan 3:2

2 Ia menghalau dan membawa aku ke dalam kegelapan yang tidak ada terangnya.

×

Ratapan 3:21

21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

×

Ratapan 3:22-23

22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

×

Mazmur 42:6-7

5 (42-6) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

6 (42-7) Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar.

×

Roma 5:3-5

3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,

4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

×

Yesaya 61:3

3 untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka "pohon tarbantin kebenaran", "tanaman TUHAN" untuk memperlihatkan keagungan-Nya.

×

Yesaya 37:22-29

22 inilah firman yang telah diucapkan TUHAN mengenai dia: Anak dara, yaitu puteri Sion, telah menghina engkau, telah mengolok-olokkan engkau; dan puteri Yerusalem telah geleng-geleng kepala di belakangmu.

23 Siapakah yang engkau cela dan engkau hujat? terhadap siapakah engkau menyaringkan suaramu, dan memandang dengan sombong-sombong? Terhadap Yang Mahakudus, Allah Israel!

24 Dengan perantaraan hamba-hambamu engkau telah mencela Tuhan, dan engkau telah berkata: Dengan banyaknya keretaku aku naik ke tempat-tempat tinggi di pegunungan, ke tempat yang paling jauh di gunung Libanon; aku telah menebang pohon-pohon arasnya yang tinggi besar, pohon-pohon sanobarnya yang terpilih; aku telah masuk ke tempat tinggi yang paling ujung, ke hutan pohon-pohonannya yang lebat.

25 Aku ini telah menggali air dan telah minum air; aku telah mengeringkan dengan telapak kakiku segala sungai di Mesir!

26 Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu,

27 sedang penduduknya yang tak berdaya menjadi terkejut dan malu; mereka menjadi seperti tumbuh-tumbuhan di padang dan seperti rumput hijau, seperti rumput di atas sotoh, atau gandum yang layu sebelum ia masak.

28 Aku tahu, jika engkau bangun atau duduk, jika keluar atau masuk, atau jika engkau mengamuk terhadap Aku.

29 Oleh karena engkau telah mengamuk terhadap Aku, dan kata-kata keangkuhanmu telah naik sampai ke telinga-Ku, maka Aku akan menaruh kelikir-Ku pada hidungmu dan kekang-Ku pada bibirmu, dan Aku akan memulangkan engkau melalui jalan, dari mana engkau datang.

×

Yesaya 37:30-32

30 Dan inilah yang akan menjadi tanda bagimu, hai Hizkia: Dalam tahun ini orang makan apa yang tumbuh sendiri, dan dalam tahun yang kedua, apa yang tumbuh dari tanaman yang pertama, tetapi dalam tahun yang ketiga, menaburlah kamu, menuai, membuat kebun anggur dan memakan buahnya.

31 Dan orang-orang yang terluput di antara kaum Yehuda, yaitu orang-orang yang masih tertinggal, akan berakar pula ke bawah dan menghasilkan buah ke atas.

32 Sebab dari Yerusalem akan keluar orang-orang yang tertinggal dan dari gunung Sion orang-orang yang terluput; giat cemburu TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.

×

Mazmur 37:33

33 Sebab itu beginilah firman TUHAN mengenai raja Asyur: Ia tidak akan masuk ke kota ini dan tidak akan menembakkan panah ke sana; juga ia tidak akan mendatanginya dengan perisai dan tidak akan menimbun tanah menjadi tembok untuk mengepungnya.

×

Yesaya 37:35

35 Dan Aku akan memagari kota ini untuk menyelamatkannya, oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku."

×

Yesaya 37:36

36 Keluarlah Malaikat TUHAN, lalu dibunuh-Nyalah seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka!

×

1 Yesaya 37:37

37 Sebab itu berangkatlah Sanherib, raja Asyur dan pulang, lalu tinggallah ia di Niniwe.

×

1 Yesaya 37:38

38 Pada suatu kali ketika ia sujud menyembah di dalam kuil Nisrokh, allahnya, maka Adramelekh dan Sarezer, anak-anaknya, membunuh dia dengan pedang, dan mereka meloloskan diri ke tanah Ararat. Kemudian Esarhadon, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.

Sharing Is Caring: