Kebesaran Tuhan VS. Kebesaran Tirus

Bacaan hari ini: Yesaya 23 | Bacaan setahun : Hakim-Hakim 11-12, Kisah Para Rasul 10

“TUHAN semesta alam yang telah memutuskannya untuk mematahkan kesombongan, untuk menghinakan segala yang permai dan semua orang mulia di bumi.” (Yesaya 23:9 ITB)

 

Terletak di wilayah Lebanon dan dikenal sebagai Fenesia kuno, Tirus memiliki kota pelabuhan besar yang menjadi pusat perdagangan dunia pada masanya sehingga membantu memakmurkan kotanya, baik di wilayah pantai maupun pusat kota di pulau lainnya yang dikelilingi benteng kuat nan megah (band. Yosua 19:29, dalam catatan Yosua disebut sebagai kota yang berkubu). 

Secara kasat mata, apalagi yang perlu ditakutkan? Namun demikian, kejatuhan pada akhirnya datang juga ketika Nebukadnezar menyerang dan mengusainya (band. Yeh. 26:7-12), dan dibinasakan kembali oleh Alexander Agung. Tirus boleh berbangga dan bermegah akan kebesarannya, tetapi seberapa besar kekuasaan manusia selalu tidak dapat dibandingkan dengan kemahakuasaan dan kemahabesaran TUHAN semesta alam, pencipta langit dan bumi. Dalam firman-Nya melalui Yesaya, Tuhan telah memutuskan untuk mematahkan kesombongan Tirus, menghinakan segala kepermaian kotanya dan juga kemuliaan orang-orangnya. Jejak kehancuran yang akan dialami Tirus hingga tujuh puluh tahun tercatat dalam ayat 10-16.

Secara berulang, Tuhan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya kepada manusia, tertulis dengan tinta emas dalam Kitab Suci. Sayangnya, manusia secara berulang pula jatuh pada kesombongan dan pemegahan diri. Benarlah seorang yang pernah berkata, sesungguhnya manusia tidak pernah belajar dari sejarah. Sebanyak kejatuhan dan kesombongan yang pernah dicatat dan diperingatkan, sebanyak itu juga manusia kembali melakukan kesalahan yang sama, mengabaikan dan melupakan kuasa Tuhan. Banyak orang seolah-olah dengan segala harta kekayaannya, jabatannya, kuasanya dapat menggenggam dunia, tapi lupa dalam sekejap segala sesuatunya dapat hilang tanpa jejak. Harta, jabatan, kekuatan pada dirinya tidak salah; yang keliru adalah bila diperbudak dan menjadi tamak dan loba serta angkuh. Tidak ada tempat untuk kesombongan di hadapan Tuhan yang Mahakuasa dan Maha besar. Bagian manusia adalah datang, percaya, berlindung, berharap, serta takut akan Tuhan.

STUDI PRIBADI : Bagaimana Anda memandang harta, jabatan, atau kekuasaan yang Tuhan percayakan kepada Anda; adakah Anda mengandalkan Tuhan atau manusia ?

Pokok Doa : Berdoalah bagi umat Tuhan yang diberi kesempatan memimpin dalam jabatan publik, agar mereka menjadi pemimpin yang rendah hati dan tetap setia kepada Tuhan serta bertanggung jawab serta menjadi teladan.