Perpuluhan Tanda Ketundukan

Bacaan hari ini: Ibrani 7:1-10 | Bacaan setahun: Keluaran 19-20, Matius 28


“Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi.” (Ibrani 7:7)

 

Pada kultur Tionghoa, kata “ketundukan” merupakan hal yang sangat tidak asing. Orang yang lebih muda usia maupun pengalaman akan lebih tunduk kepada yang lebih tua maupun yang lebih pengalaman sebagai tanda hormat. Hal ini sangat sering disampaikan dan ditanamkan oleh orang tua dari semenjak anak-anak mereka berusia muda.

Pada bacaan hari ini, Ibrani 7:1-10, Penulis berada pada pembahasan membandingkan Yesus dengan Harun, dan juga Melkisedek. Pada ayat 1, dituliskan Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah yang Mahatinggi yang menyongsong Abraham dan memberkati Abraham. Arti dari nama Melkisedek sendiri adalah raja kebenaran dan juga raja damai sejahtera, tidak berbapa dan tidak beribu, tidak bersilsilah, tiada awal, dan hidupnya tiada berkesudahan, dan imam sampai selama-lamanya. Kepada sosok yang besar ini, Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya sebagai tanda hormatnya. Karena alasan ini juga, orang-orang Lewi yang seharusnya berhak menerima sepersepuluh, mereka juga memberikan sepersepuluh dari yang mereka miliki. Melkisedek ini dibahas karena penulis ingin menggambarkan bahwa Yesus adalah seperti Melkisedek, yaitu di atas dari Abraham, di atas para imam dan orang Lewi. Tidak hanya itu, ayat 26 menuliskan, “Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga.” Maka dari itu, Yesus patutlah menerima ketundukan dan hormat dari kita, manusia berdosa.

Ketundukan yang kita berikan kepada Allah dapat berupa banyak hal. Pada ayat yang kita bahas ini secara spesifik merujuk kepada pemberian sepersepuluh dari yang kita miliki. Namun tidak hanya itu, kesetiaan kita kepada Allah untuk mendengarkan firman-Nya, melakukan amanat-Nya, juga merupakan tindakan dari ketundukan kita kepada-Nya. Di muka bumi ini, tiada yang lebih besar daripada Yesus, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak sujud tunduk di hadapan-Nya, Allah kita yang agung.

STUDI PRIBADI : Yesus adalah Allah kita yang Maha, melebihi Abraham, para imam, dan orang Lewi. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak tunduk dan setia kepada-Nya.

Pokok Doa : Berdoalah agar kekaguman kita akan kuasa Yesus semakin hari semakin bertumbuh dan biarlah kekaguman ini membawa kita semakin kuat berakar di dalam-Nya.

Sharing Is Caring :